Jumat, 04 April 2014

Kebudayaan Panaragan

Kebudayaan Panaragan

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak kepulauan, penduduknya memiliki suatu ciri khas dan yang berbeda-beda pada setiap daerah-nya. Ciri khas tersebut disebabkan banyak hal, antara lain keadaan geografis, sistem sosial, sistem keagamaan, dan lain sebagainya yang dapat mempengaruhi dan membentuk watak maupun perilaku masyrakat, pola pikir dimana mereka berada.

Budaya Indonesia banyak sekali jumlahnya, tiap-tiap wilayah akan memiliki budaya dan kearifan lokal yang berbeda-berbeda. Perbedaan itu membuat Indonesia semakin eksotis di mata dunia. Perbedaan itu pula membuat Indonesia semakin dewasa dan bijaksana. Begitu pula Jawa Timur, Provinsi paling timur di pulau Jawa ini memiliki keunikan sendiri. Tentunya dalam hal kebudayaannya. Jawa Timur memiliki sepuluh wilayah kebudayaan yang berbeda, uniknya dalam satu provinsi yang sama. Ini bisa menjadi keunikan bahkan peluang  untuk memajukan Jawa Timur dan mungkin Indonesia jikalau kita mampu memahami dan menjaga agar kesepuluh wilayah ini tetap ada dan terus berkembang.

Menurut Koetjaraningrat (1983) tentang unsur kebudayaan menyatakan bahwa ada tujuh unsur dalam sebuah kebudayaan secara universal. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut antara lain adalah sistem religi, sisitem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian da sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian.

Ketujuh unsur kebudayaan itu membawa Jawa Timur terbagi menjadi sepuluh wilayah kebudayaan. Menurut Ayu Sutarto (2004) ada sepuluh wilayah kebudayaan Jawa Timur yaitu Jawa Mataram, Jawa Panaragan, Arek, Samin (Sedulu Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, dan Madura Kangean.
Kesepuluh wilayah kebudayaan tersebut tentu memiliki keunikan sendiri, corak budaya yang berbeda dan kearifan lokal yang akan membangun Jawa Timur menjadi salah satu dari sekian ribu kawasan di Indonesia yang sangat eksotis, serta membangun masyarakat Indonesia yang bermatabat dan tentu lebih baik. Oleh karena itu sangatlah penting bagi pemerintah dan masyarakat khususnya untuk menjaga dan melestarikan budaya Indonesia, tentunya kita harus mengenal dulu apa saja budaya yang kita miliki.

Diantara sepuluh kebudayaan Jawa Timur tersebut disini kita ambil satu kebudayaan daripadanya yaitu Jawa Panaragan atau sering disebutnya dengan istilah Panaragan.

Pembahasan tentang kebudayaan Jawa Panaragan sendiri tak lepas dari kesenian reog Ponorogo. Ada beberapa versi yang menceritakan tentang asal mula kesenian reog Ponorogo itu sendiri. Salah satu cerita menarik dan dijadikan sebagian besar masyarakat Panaragan adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya.

Bermula dari adanya kepercayaan yang tersebar di daerah sekitar Ponorogo, ada juga yang mengistilahlan ponorogonan yang berarti adat istiadat yang berbau ponorogo dan didominasi oleh daerah tersebut. Adat tersebut adalah kesenian yang terdahulu dan masih belum terjamah sejarah dan sekarang menjadi cikal bakal adanya beberapa kesenian termasuk reog ponorogo yang populer saat ini. Dalam beberapa tahun adat istiadat orang Ponorogo semakin banyak dan terangkum dalam kesenian-kesenian daerah (reog poorogo) yang sampai sekarang tetap mendominasi diantara beberapa kebudayaan yang

Jenis kesenian ini sangat terkenal di Indonesia bahkan dunia, serta sempat
 diklaim sebagai kebudayaan sebuah negara di Asia yang secara garis kebudayaan memang masih serumpun yaitu melayu. Beberapa tahun lalu, sempat terjadi kontroversi karena diklaim oleh negara tetangga sebagai kesenian asli negeri jiran tersebut. Hal tersebut membuat para seniman reog Ponorogo berang dan dengan adanya catatan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia, akhirnya Malaysia mengakui bahwa kesenian Reog adalah buah hasil kesenian Jawa yang di bawa oleh para perantau seniman Reog yang ke negeri tersebut.

Jenis kesenian Reog Ponorogo dan juga beberapa kesenian yang lain seperti lukisan kaca dan tayub ponorogo. Pada wilayah ini juga masih butuh penelitian lebih lanjut, mengapa daerah ini tidak masuk dalam wilayah Jawa Mataraman. Melihat kondisi geografis wilayah ini diapit oleh daerah dengan kebudayaan Jawa Mataraman, seperti Pacitan, Magetan, Madiun, dan Kediri.

Sedangkan komunitas Jawa Panaragan tinggal di Kabupaten Ponorogo. Secara kultural masyarakat Jawa Panaragan dikenal sangat menghormati tokoh-tokoh formal yang berposisi sebagai pangreh praja, tetapi tokoh informal seperti warok dan ulama juga memiliki status sosial cukup penting di daerah ini. Jenis kesenian di wilayah ini sangat terkenal yaitu Reog Ponorogo. Banyak kesenian yang dikenal di daerah ini, seperti lukisan kaca, tari tayub (tandakan), dan yang sangat terkenal adalah reog Ponorogo.

Sejalan dengan perkembangan budaya yang ada di Indonesia, budaya Jawa Timur pun tak luput menyertai perkembangan tersebut terutama budaya panaragan itu sendiri yang kini mulai terancam tergeser keberadaannya karena banyaknya kebudayaan baru yang  telah menjadi kiblat baru masyarakat masa kini.

 
No.
Sub wilayah budaya Jawa Timur
Karakteristik
1.
Budaya Mataraman
Santun, sabar, paternalistik, aristokrat
2.
Budaya Panaragan
Monokultur, tegas, berani
3.
Budaya Samin
Jujur,polos, terbuka, utopis
4.
Budaya Arek
Kasar, berani, tegas, dinamis

5.
Budaya Tengger
Patuh, konsisten, ramah
6.
Budaya Pandalungan
Multikultural, terbuka, hibrid
7.
Budaya Osing
Egaliter, dinamis, sinkretis
8.
Budaya Madura Pulau
Tegas, pekerja keras, berani, monokultur
9.
Budaya Madura Bawean
Multikultur, dinamis
10.
Budaya Madura Kangean
Ramah, multikultur, dinamis

Seiring perkembangan kesenian kebudayaan modern, banyak kesenian tradisional yang tersingkirkan, termasuk kebudayaan panaragan. Hal tersebut dipicu oleh berkurangnya minat masyarakat untuk mempelajari kebudayaan. Selain itu, pengaruh globalisasi kebudayaan barat terhadap kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia juga menjadi dalang tersingkirnya kebudayaan ini. Minimnya pengenalan kebudayaan kepada generasi muda juga menyebabkan kebudayaan Panaragan kurang diminati.
Cara pengemasan kesenian daerah yang terkesan monoton dan masih terhubung dengan tradisi mitos, klenik, juga menyebabkan kebudayaan Panaragan dipandang sebagai kebudayaan yang identik dengan tradisi nenek moyang.

Oleh karena itu, perlu adanya perubahan paradigma agar kebudayaan Panaragan tetap eksis di tengah-tengah arus globalisasi. Hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir itu semua yakni dapat kita mulai dengan lebih mencintai kebudayaan Panaragan itu sendiri, dengan meneruskan kebudayaan Panaragan kepada generasi muda. Dengan mengikutsertakan kesenian Panaragan di event-event Nasional juga dapat dijadikan alternatif untuk mengangkat kebudayaan Panaragan di kancah nasional, selain itu dengan secara rutin mengadakan pagelaran seni di daerah tersebut.  Sehingga dapat menumbuhkan rasa kebanggaan tersendiri bagi Indonesia secara umumnya dan daerah Panaragan secara khususnya.  





                               

1 komentar:

  1. Assalamualaikum....
    Saya izin bertanya apa yang menyebabkan Ponorogo menjadi kebudayaan yang berdiri sendiri?

    BalasHapus