Kebudayaan Panaragan
Budaya Indonesia banyak sekali jumlahnya, tiap-tiap
wilayah akan memiliki budaya dan kearifan lokal yang berbeda-berbeda. Perbedaan
itu membuat Indonesia semakin eksotis di mata dunia. Perbedaan itu pula membuat
Indonesia semakin dewasa dan bijaksana. Begitu pula Jawa Timur, Provinsi paling
timur di pulau Jawa ini memiliki keunikan sendiri. Tentunya dalam hal
kebudayaannya. Jawa Timur memiliki sepuluh wilayah kebudayaan yang berbeda,
uniknya dalam satu provinsi yang sama. Ini bisa menjadi keunikan bahkan
peluang untuk memajukan Jawa Timur dan
mungkin Indonesia jikalau kita mampu memahami dan menjaga agar kesepuluh
wilayah ini tetap ada dan terus berkembang.
Menurut Koetjaraningrat (1983) tentang unsur
kebudayaan menyatakan bahwa ada tujuh unsur dalam sebuah kebudayaan secara
universal. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut antara lain adalah sistem religi,
sisitem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian da
sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian.
Ketujuh unsur kebudayaan itu membawa Jawa Timur
terbagi menjadi sepuluh wilayah kebudayaan. Menurut Ayu Sutarto (2004) ada
sepuluh wilayah kebudayaan Jawa Timur yaitu Jawa Mataram, Jawa Panaragan, Arek,
Samin (Sedulu Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Madura
Bawean, dan Madura Kangean.
Kesepuluh wilayah kebudayaan tersebut tentu memiliki
keunikan sendiri, corak budaya yang berbeda dan kearifan lokal yang akan
membangun Jawa Timur menjadi salah satu dari sekian ribu kawasan di Indonesia
yang sangat eksotis, serta membangun masyarakat Indonesia yang bermatabat dan
tentu lebih baik. Oleh karena itu sangatlah penting bagi pemerintah dan
masyarakat khususnya untuk menjaga dan melestarikan budaya Indonesia, tentunya
kita harus mengenal dulu apa saja budaya yang kita miliki.
Diantara sepuluh kebudayaan Jawa
Timur tersebut disini kita ambil satu kebudayaan daripadanya yaitu Jawa Panaragan atau sering disebutnya
dengan istilah Panaragan.
Pembahasan tentang kebudayaan Jawa Panaragan sendiri
tak lepas dari kesenian reog Ponorogo.
Ada beberapa versi yang menceritakan tentang asal mula kesenian reog Ponorogo
itu sendiri. Salah satu cerita menarik dan dijadikan sebagian besar masyarakat
Panaragan adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi
kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada
abad ke-15. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan
masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. Hingga kini masyarakat Ponorogo
hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan
budaya yang sangat kaya.
Bermula dari adanya kepercayaan yang tersebar di
daerah sekitar Ponorogo, ada juga yang mengistilahlan ponorogonan yang berarti adat istiadat yang berbau ponorogo dan didominasi
oleh daerah tersebut. Adat tersebut adalah kesenian yang terdahulu dan masih
belum terjamah sejarah dan sekarang menjadi cikal bakal adanya beberapa
kesenian termasuk reog ponorogo yang populer saat ini. Dalam beberapa tahun
adat istiadat orang Ponorogo semakin banyak dan terangkum dalam
kesenian-kesenian daerah (reog poorogo) yang sampai sekarang tetap mendominasi
diantara beberapa kebudayaan yang
Jenis kesenian ini sangat terkenal di Indonesia bahkan
dunia, serta sempat
diklaim sebagai kebudayaan sebuah negara di
Asia yang secara garis kebudayaan memang masih serumpun yaitu melayu. Beberapa
tahun lalu, sempat terjadi kontroversi karena diklaim oleh negara tetangga
sebagai kesenian asli negeri jiran tersebut. Hal tersebut membuat para seniman
reog Ponorogo berang dan dengan adanya catatan dengan nomor 026377 tertanggal
11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh Menteri Hukum dan HAM Republik
Indonesia, akhirnya Malaysia mengakui bahwa kesenian Reog adalah buah hasil
kesenian Jawa yang di bawa oleh para perantau seniman Reog yang ke negeri
tersebut.
Jenis kesenian Reog
Ponorogo dan juga beberapa kesenian yang lain seperti lukisan kaca dan tayub ponorogo.
Pada wilayah ini juga masih butuh penelitian lebih lanjut, mengapa daerah ini
tidak masuk dalam wilayah Jawa Mataraman. Melihat kondisi geografis wilayah ini
diapit oleh daerah dengan kebudayaan Jawa Mataraman, seperti Pacitan, Magetan,
Madiun, dan Kediri.
Sedangkan komunitas Jawa Panaragan tinggal di Kabupaten
Ponorogo. Secara kultural masyarakat Jawa Panaragan dikenal sangat menghormati
tokoh-tokoh formal yang berposisi sebagai pangreh praja, tetapi tokoh informal
seperti warok dan ulama juga memiliki status sosial cukup penting di daerah
ini. Jenis kesenian di wilayah ini sangat terkenal yaitu Reog Ponorogo. Banyak
kesenian yang dikenal di daerah ini, seperti lukisan kaca, tari tayub
(tandakan), dan yang sangat terkenal adalah reog Ponorogo.
Sejalan dengan perkembangan budaya yang ada di Indonesia,
budaya Jawa Timur pun tak luput menyertai perkembangan tersebut terutama budaya
panaragan itu sendiri yang kini mulai terancam tergeser keberadaannya karena banyaknya
kebudayaan baru yang telah menjadi
kiblat baru masyarakat masa kini.
|
No.
|
Sub wilayah budaya Jawa Timur
|
Karakteristik
|
|
1.
|
Budaya Mataraman
|
Santun, sabar, paternalistik, aristokrat
|
|
2.
|
Budaya
Panaragan
|
Monokultur,
tegas, berani
|
|
3.
|
Budaya Samin
|
Jujur,polos, terbuka, utopis
|
|
4.
|
Budaya Arek
|
Kasar,
berani, tegas, dinamis
|
|
5.
|
Budaya Tengger
|
Patuh, konsisten, ramah
|
|
6.
|
Budaya Pandalungan
|
Multikultural, terbuka, hibrid
|
|
7.
|
Budaya Osing
|
Egaliter, dinamis, sinkretis
|
|
8.
|
Budaya Madura Pulau
|
Tegas,
pekerja keras, berani, monokultur
|
|
9.
|
Budaya Madura Bawean
|
Multikultur, dinamis
|
|
10.
|
Budaya Madura Kangean
|
Ramah, multikultur, dinamis
|
Seiring perkembangan
kesenian kebudayaan modern, banyak kesenian tradisional yang tersingkirkan,
termasuk kebudayaan panaragan. Hal tersebut dipicu oleh berkurangnya minat
masyarakat untuk mempelajari kebudayaan. Selain itu, pengaruh globalisasi
kebudayaan barat terhadap kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia juga
menjadi dalang tersingkirnya kebudayaan ini. Minimnya pengenalan kebudayaan
kepada generasi muda juga menyebabkan kebudayaan Panaragan kurang diminati.
Cara pengemasan
kesenian daerah yang terkesan monoton dan masih terhubung dengan tradisi mitos,
klenik, juga menyebabkan kebudayaan Panaragan dipandang sebagai kebudayaan yang
identik dengan tradisi nenek moyang.
Oleh karena itu, perlu
adanya perubahan paradigma agar kebudayaan Panaragan tetap eksis di tengah-tengah
arus globalisasi. Hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir itu semua yakni dapat
kita mulai dengan lebih mencintai kebudayaan Panaragan itu sendiri, dengan
meneruskan kebudayaan Panaragan kepada generasi muda. Dengan mengikutsertakan
kesenian Panaragan di event-event Nasional juga dapat dijadikan alternatif
untuk mengangkat kebudayaan Panaragan di kancah nasional, selain itu dengan
secara rutin mengadakan pagelaran seni di daerah tersebut. Sehingga dapat menumbuhkan rasa kebanggaan
tersendiri bagi Indonesia secara umumnya dan daerah Panaragan secara khususnya.
Assalamualaikum....
BalasHapusSaya izin bertanya apa yang menyebabkan Ponorogo menjadi kebudayaan yang berdiri sendiri?